- Diposting oleh : Humas Bina Amal
- pada tanggal : Oktober 14, 2026
ALUNAN MUSIK
Sharana Putri Zaynha seorang gadis
cantik yang sangat menyukai musik, satu
sekolah hampir mengenalnya “karna Ia
selalu menang dalam lomba musikal tetapi..orang tuanya tidak mendukung
bakatnya, “sudah berapa kali sih ayah bilang jangan main musik, apapun bakatmu
ayah dukung asal jangan musik ra!” itulah yang diucapkan ayahnya sehingga
menyakiti hati kecil Sharana. Tapi mengapa? Mengapa keluarga Shara benci sekali
dengan musik? Bukan, bukan seluruh keluarganya hanya keluarga ayah.
Dimalam yang sunyi angin
bergerumuh seolah hujan akan segera datang. Bukan air hujan yang ada hanyalah
tetesan air mata dimalam itu “kamu itu gak berguna! Mau jadi apa kamu dimasa
depan? Kamu mengecewakan” kata sang ayah. Hatinya bagai disambar halilintar
“apa salahnya sih?” dalam hati Shara. Terlewat sudah hari itu, matahari terbit
dengan cahayanya menyinari kamarku pada akhirnya “tok tok tok, dek makan dulu”
dari luar terdengar suara wanita lembut, “iya mama aku kesana” Shara bergegas
menuju ruang makan, hanya terdapat mama “Ayah mana ma?” tanyanya “sudah
berangkat kerja dek, makan saja dulu nanti mama antar” mama baik sekali kenapa
ya jauh berbeda dengan ayah? Shara sayang sekali sama mama.
Tiba lah disekolah, “haloo
Shara..” sapaan Mona kepadaku setiap pagi terasa berbeda ketika dirumah. Mona
adalah sahabatku dia yang paling mengerti tentang perasaanku, dia yang
menemaniku disaat suka dan duka tapi apa dia tau tentang cerita dirumah? Jelas
tau, tapi dia selalu melupakannya agar aku juga bisa merasakan hidup tanpa
cerita menyedihkan. Saat jam istirahat
Shara dipanggil ke ruang kepala sekolah, sampai disana ibu kepala bernama Bu
Layla, Ia berkata “maaf Shara mengganggu waktunya, tapi apakah kamu mau ibu
ikutkan lomba musikal internasional?” Shara terkejut gembira “tapi apa boleh?
Ayah pasti gak setuju” dalam batinnya. “Kalau boleh tau terlaksana kapan ya
bu?” tanya Shara, “dua pekan lagi nak, gimana? Kamu bisa latihan dulu” jawab Bu
Layla, “saya tanyakan dulu ya Bu pada orang tua saya”
Sampai dikelas Shara terlihat
lesu karena Ia tau pasti Ayahnya tidak mengizinkannya Mona yang sadar, akhirnya
bertanya “gimana ra? Apa kata Bu Layla?” Shara menjelas apa yang tadi
diobrolkan. “Ooh begitu ya? Aku tau kok perasaanmu sabar ya..hmm nanti sore
kita ketemuan ya di taman, bisa kan?” tanya Mona, Shara kebingungan tetapi Ia
tetap mengiyakan ajakan Mona. Sesampainya dirumah “nak? Sudah pulang ya, ganti
baju dulu besok sepertinya kakakmu pulang dari pondok” info mama Shara sangat
membahagiakan hati Shara “ hahh yang benarr?! Oke mama” seru Shara. Shara masih
memikirkan Mona yang tiba tiba mengajaknya ke taman, “kenapa dia ngajak aku ke
taman? Yaudah deh.
Langit sudah mulai berwarna oren
Shara teringat pesan Mona, Ia pun bersiap siap lalu pamit kepada mamanya “ma
aku ijin ke taman ya, di ajak sama Mona” katanya “loh sudah mau malam kenapa
barus sekarang?, Ya sudah jangan lama lama” nasihat mama kepada Shara. Dengan
sepeda Shara menggayuh sepedanya menuju taman. Terlihat dari kejauhan ada Mona
disana yang sedang menunggu kedatangan Shara “Monaaa! Maaf..sudah menunggu”
teriak Shara memanggil mona, “iya ra ga apa, aku juga barusan datang kok” jawab
mora. Tidak sempat bertanya, Mora mengeluarkan dua buah kalung dari kantongnya
dan memberi satu kepada Shara “apa ini? Buat apa?” bertanya dengan kebingungan,
Mora memakai kalungnya dan hanya tersenyum seolah memberi isyarat “pakailah!” Syara pun memakainya meski ragu-ragu.
“Ra..pegang tanganku sekuat kuatnya, ya! Lalu perlahan pejamkan matamu”
Shara mengangguk.
Gelap, gelap! Gelapnya bukan seperti pemejaman mata.
“Ra, bangun ra” suara mora,
sembari terduduk lemas Shara melihat sekitarnya yang tidak asing, ya!. Ini
adalah rumah ayah sewaktu kecil! Alias rumah nenek yang telah lama pergi,
pergi? Pergi tanpa jejak. “Morr! Apa apan ini, kenapa kita disini!” kepanikan
Shara membuatnya berteriak, “ssssst mereka bisa dengar” peringatan mora kepada
Shara, tiba tiba..
Terdengar suara
musik yang cukup nyaring bunyinya, seperti dentunan gamelan dan siulan bernada,
indah, namun janggal, “mor itu apa lagi ih aku takut” keluh Shara yang wajar.
Mora mengajak Shara pergi lebih dekat dengan sumber musik, gandengan erat,
tubuh bergetar keringat bercucuran di dahi
melihat Nenekku! Keluar dari rumah seperti tak sadarkan diri mengikuti alunan musik. Tidak salah lagi
musik indah yang janggal itu ialah Hipnotis
“Morrr itu nenekku mor.. Ayo
selamatkan bahaya banget nenek nenek keluar malam”
Kepanikan Shara
belum tau apa yang terjadi “sabar jangan sekarang, kita ikutin dulu ayo
selidiki” jawab mora, mereka pun mengikuti nenek berjalan, tiba lah di sebuah
gudang, sebenarnya kalo dibilang gudang tidak pantas karna memang besar dan
misterius? Sebutlah markas. Disitulah kami berlari mengintip apa yang terjadi,
terlihat bos besar memainkan seruling emasnya dan anak buahnya yang memainkan
gamelan, “hei! Siapa disana! Aku melihatmu” bos besar mengetahui keberadaanya,
Ia berdiri dari singgah sananya meninggalkan seruling untuk mengejar mereka,
lalu dengan sigap Mora menyuruh Shara berlari mengambil seruling untuk
mematahkannya, sementara Mora berusaha menyadarkan nenek walau sedang jadi
target bos besar. Shara berhasil mendapatkannya juga mematahkannya
“aaaaaaarrh” teriakan bos besar yang
kesakitan, perlahan tubuh bos besar menjadi abu, namun anak buah tidak begitu
mereka seperti kebingungan seakan terbebas dari mimpi buruk, ternyata mereka
semua adalah korban hipnotis yang tak
pernah ditemukan di masa depan. Mora dan Shara lah yang mengubah alurnya. “Kami
berterima kasih atas bantuan kalian ya kami tidak tau harus apa kalo bukan
karna kalian” warga berterima kasih pada Mora dan Shara.
Tiba-tiba teriakan anak kecil
terdengar dari kejauhan “buuk ibuk dimanaa!” siapa lagi kalo bukan ayah Shara
yang masih kecil, “iya nak ibu disini maaf ya” nenek Shara menjawab dengan
lebut sembari memeluk hangat sang buah hati. “Saya ucapkan terimakasih sudah
memberhentikan teror di desa kami” nenek memberikan sebuah seruling kayu dengan
ukiran indah. “Terima kasih ya bu kami akan menjaganya” kami menerima dengan
senang hati sambil melambai ke arah ayah Shara eh, maksudnya laki-laki kecil
itu, kami berjalan meninggalkan desa dengan berat hati. Dijalan Mora mengatakan “sudah cukup kan? Setelah ini kamu bisa ikut
lomba dengan dukungan ayahmu” senyuman Shara tak bisa bohong, senang sekali.
Tak lama kalung mereka bersinar terang sampai tak sadar apa yang dilihatnya
“Ra..bangun ra kamu ngapain disini
ih bikin khawatir aja” suaranya tak asing “kak? yah?” Di dunia yang sebenarnya
Shara hanya tergeletak di tengah taman, kakak Shara yang mencari-cari hingga
menemukan Shara sendirian di taman, sendiri? Ya anehnya Mora tidak ada hanya
ada Ayah dan Kakak Shara, “Ayah khawatirr sama kamu nak, kami nyari kamu gak
ketemu-ketemu” ayah memeluk Shara dengan erat penuh kasih sayang, mereka pun
kembali ke rumah. Melihat Mamahnya yang sedang mondar mandir di teras penuh harapan,
“Sharaaa anakku sayang kamu dari mana saja?” lagi lagi dengan pelukkan, Shara
tidak bisa menceritakannya bukan tidak mau, tapi Mora berpesan untuk menyimpan
ceritanya nikmati alurnya.
Sejak saat itu semuanya berbeda
sangat sangat berbeda, tiba tiba saja ayah Shara sangat mendukung bahkan
memodali Shara untuk membeli lebih banyak alat musik, dan kabar nenek Shara
yang awal ceritanya “nenekmu menghilang tanpa jejak” berubah “nenek sudah
meninggal karna sakit” tapi disekolah Shara tetap bersahabat dengan Mora,
anehnya Mora seperti tidak mengingat apapun. Semakin dewasa Shara menjadi Gadis
dengan prestasi seni musik yang banyakk sekali berkat dukungan orang tua,
kakak, dan sahabatnya ya, Mora. Persahabatan mereka takkan pernah di lupakan
“Aku senang memiliki sahabat sepertimu Mora terima kasih seruling ini akan
kujaga untuk mengingatmu” itu kata terakhir Shara sebelum Mora pindah ke luar
negri untuk menuntut ilmu lebih jauh “iya raa aku juga pastinya senang, sukses
selalu ya. Ada kalanya kita akan bertemu lagi”
mereka pun menjadi orang sukses dengan jalannya masing-masing.
Terkadang
persahabatan bukan hanya tentang bermain dengan tawa, tapi harus bisa saling
membantu melewati segala rintangan dunia suka maupun duka tawa maupun tangis
untuk mengejar impian dan sukses bersama.
TAMAT-
Penulis : Zauja Karima Firdausi
Sekolah : SMP IT BINA AMAL Semarang
CP : 085559640657
Alamat :
Semarang, kec.Gunung pati,kel. Soekerejo, Perumahan Taman Purisartika
B213B
