Skip to Content
Loading...
Bina Amal
Bina Amal
Online
Assalamualaikum... 👋
Ada yang bisa dibantu?

ALUNAN MUSIK

 


                                                             ALUNAN MUSIK

 

 

             Sharana Putri Zaynha seorang gadis cantik yang  sangat menyukai musik, satu sekolah hampir mengenalnya  “karna Ia selalu menang dalam lomba musikal tetapi..orang tuanya tidak mendukung bakatnya, “sudah berapa kali sih ayah bilang jangan main musik, apapun bakatmu ayah dukung asal jangan musik ra!” itulah yang diucapkan ayahnya sehingga menyakiti hati kecil Sharana. Tapi mengapa? Mengapa keluarga Shara benci sekali dengan musik? Bukan, bukan seluruh keluarganya hanya keluarga ayah.

 

    

             Dimalam yang sunyi angin bergerumuh seolah hujan akan segera datang. Bukan air hujan yang ada hanyalah tetesan air mata dimalam itu “kamu itu gak berguna! Mau jadi apa kamu dimasa depan? Kamu mengecewakan” kata sang ayah. Hatinya bagai disambar halilintar “apa salahnya sih?” dalam hati Shara. Terlewat sudah hari itu, matahari terbit dengan cahayanya menyinari kamarku pada akhirnya “tok tok tok, dek makan dulu” dari luar terdengar suara wanita lembut, “iya mama aku kesana” Shara bergegas menuju ruang makan, hanya terdapat mama “Ayah mana ma?” tanyanya “sudah berangkat kerja dek, makan saja dulu nanti mama antar” mama baik sekali kenapa ya jauh berbeda dengan ayah? Shara sayang sekali sama mama.

 

 

             Tiba lah disekolah, “haloo Shara..” sapaan Mona kepadaku setiap pagi terasa berbeda ketika dirumah. Mona adalah sahabatku dia yang paling mengerti tentang perasaanku, dia yang menemaniku disaat suka dan duka tapi apa dia tau tentang cerita dirumah? Jelas tau, tapi dia selalu melupakannya agar aku juga bisa merasakan hidup tanpa cerita menyedihkan. Saat  jam istirahat Shara dipanggil ke ruang kepala sekolah, sampai disana ibu kepala bernama Bu Layla, Ia berkata “maaf Shara mengganggu waktunya, tapi apakah kamu mau ibu ikutkan lomba musikal internasional?” Shara terkejut gembira “tapi apa boleh? Ayah pasti gak setuju” dalam batinnya. “Kalau boleh tau terlaksana kapan ya bu?” tanya Shara, “dua pekan lagi nak, gimana? Kamu bisa latihan dulu” jawab Bu Layla, “saya tanyakan dulu ya Bu pada orang tua saya”

 

 

               Sampai dikelas Shara terlihat lesu karena Ia tau pasti Ayahnya tidak mengizinkannya Mona yang sadar, akhirnya bertanya “gimana ra? Apa kata Bu Layla?” Shara menjelas apa yang tadi diobrolkan. “Ooh begitu ya? Aku tau kok perasaanmu sabar ya..hmm nanti sore kita ketemuan ya di taman, bisa kan?” tanya Mona, Shara kebingungan tetapi Ia tetap mengiyakan ajakan Mona. Sesampainya dirumah “nak? Sudah pulang ya, ganti baju dulu besok sepertinya kakakmu pulang dari pondok” info mama Shara sangat membahagiakan hati Shara “ hahh yang benarr?! Oke mama” seru Shara. Shara masih memikirkan Mona yang tiba tiba mengajaknya ke taman, “kenapa dia ngajak aku ke taman? Yaudah deh.

    

 

               Langit sudah mulai berwarna oren Shara teringat pesan Mona, Ia pun bersiap siap lalu pamit kepada mamanya “ma aku ijin ke taman ya, di ajak sama Mona” katanya “loh sudah mau malam kenapa barus sekarang?, Ya sudah jangan lama lama” nasihat mama kepada Shara. Dengan sepeda Shara menggayuh sepedanya menuju taman. Terlihat dari kejauhan ada Mona disana yang sedang menunggu kedatangan Shara “Monaaa! Maaf..sudah menunggu” teriak Shara memanggil mona, “iya ra ga apa, aku juga barusan datang kok” jawab mora. Tidak sempat bertanya, Mora mengeluarkan dua buah kalung dari kantongnya dan memberi satu kepada Shara “apa ini? Buat apa?” bertanya dengan kebingungan, Mora memakai kalungnya dan hanya tersenyum seolah memberi isyarat “pakailah!”  Syara pun memakainya meski ragu-ragu. “Ra..pegang tanganku sekuat kuatnya, ya! Lalu perlahan  pejamkan matamu”

Shara mengangguk. Gelap, gelap! Gelapnya bukan seperti pemejaman mata.

 

 

        

             “Ra, bangun ra” suara mora, sembari terduduk lemas Shara melihat sekitarnya yang tidak asing, ya!. Ini adalah rumah ayah sewaktu kecil! Alias rumah nenek yang telah lama pergi, pergi? Pergi tanpa jejak. “Morr! Apa apan ini, kenapa kita disini!” kepanikan Shara membuatnya berteriak, “ssssst mereka bisa dengar” peringatan mora kepada Shara, tiba tiba..

Terdengar suara musik yang cukup nyaring bunyinya, seperti dentunan gamelan dan siulan bernada, indah, namun janggal, “mor itu apa lagi ih aku takut” keluh Shara yang wajar. Mora mengajak Shara pergi lebih dekat dengan sumber musik, gandengan erat, tubuh bergetar keringat bercucuran di dahi  melihat Nenekku! Keluar dari rumah seperti tak sadarkan diri  mengikuti alunan musik. Tidak salah lagi musik indah yang janggal itu ialah Hipnotis

 

 

           “Morrr itu nenekku mor.. Ayo selamatkan bahaya banget nenek nenek keluar malam”

Kepanikan Shara belum tau apa yang terjadi “sabar jangan sekarang, kita ikutin dulu ayo selidiki” jawab mora, mereka pun mengikuti nenek berjalan, tiba lah di sebuah gudang, sebenarnya kalo dibilang gudang tidak pantas karna memang besar dan misterius? Sebutlah markas. Disitulah kami berlari mengintip apa yang terjadi, terlihat bos besar memainkan seruling emasnya dan anak buahnya yang memainkan gamelan, “hei! Siapa disana! Aku melihatmu” bos besar mengetahui keberadaanya, Ia berdiri dari singgah sananya meninggalkan seruling untuk mengejar mereka, lalu dengan sigap Mora menyuruh Shara berlari mengambil seruling untuk mematahkannya, sementara Mora berusaha menyadarkan nenek walau sedang jadi target bos besar. Shara berhasil mendapatkannya juga mematahkannya “aaaaaaarrh”  teriakan bos besar yang kesakitan, perlahan tubuh bos besar menjadi abu, namun anak buah tidak begitu mereka seperti kebingungan seakan terbebas dari mimpi buruk, ternyata mereka semua adalah korban hipnotis  yang tak pernah ditemukan di masa depan. Mora dan Shara lah yang mengubah alurnya. “Kami berterima kasih atas bantuan kalian ya kami tidak tau harus apa kalo bukan karna kalian” warga berterima kasih pada Mora dan Shara.

 

 

           Tiba-tiba teriakan anak kecil terdengar dari kejauhan “buuk ibuk dimanaa!” siapa lagi kalo bukan ayah Shara yang masih kecil, “iya nak ibu disini maaf ya” nenek Shara menjawab dengan lebut sembari memeluk hangat sang buah hati. “Saya ucapkan terimakasih sudah memberhentikan teror di desa kami” nenek memberikan sebuah seruling kayu dengan ukiran indah. “Terima kasih ya bu kami akan menjaganya” kami menerima dengan senang hati sambil melambai ke arah ayah Shara eh, maksudnya laki-laki kecil itu, kami berjalan meninggalkan desa dengan berat hati. Dijalan  Mora mengatakan  “sudah cukup kan? Setelah ini kamu bisa ikut lomba dengan dukungan ayahmu” senyuman Shara tak bisa bohong, senang sekali. Tak lama kalung mereka bersinar terang sampai tak sadar apa yang dilihatnya

 

 

           “Ra..bangun ra kamu ngapain disini ih bikin khawatir aja” suaranya tak asing “kak? yah?” Di dunia yang sebenarnya Shara hanya tergeletak di tengah taman, kakak Shara yang mencari-cari hingga menemukan Shara sendirian di taman, sendiri? Ya anehnya Mora tidak ada hanya ada Ayah dan Kakak Shara, “Ayah khawatirr sama kamu nak, kami nyari kamu gak ketemu-ketemu” ayah memeluk Shara dengan erat penuh kasih sayang, mereka pun kembali ke rumah. Melihat Mamahnya yang sedang mondar mandir di teras penuh harapan, “Sharaaa anakku sayang kamu dari mana saja?” lagi lagi dengan pelukkan, Shara tidak bisa menceritakannya bukan tidak mau, tapi Mora berpesan untuk menyimpan ceritanya nikmati alurnya.

 

 

 

              Sejak saat itu semuanya berbeda sangat sangat berbeda, tiba tiba saja ayah Shara sangat mendukung bahkan memodali Shara untuk membeli lebih banyak alat musik, dan kabar nenek Shara yang awal ceritanya “nenekmu menghilang tanpa jejak” berubah “nenek sudah meninggal karna sakit” tapi disekolah Shara tetap bersahabat dengan Mora, anehnya Mora seperti tidak mengingat apapun. Semakin dewasa Shara menjadi Gadis dengan prestasi seni musik yang banyakk sekali berkat dukungan orang tua, kakak, dan sahabatnya ya, Mora. Persahabatan mereka takkan pernah di lupakan “Aku senang memiliki sahabat sepertimu Mora terima kasih seruling ini akan kujaga untuk mengingatmu” itu kata terakhir Shara sebelum Mora pindah ke luar negri untuk menuntut ilmu lebih jauh “iya raa aku juga pastinya senang, sukses selalu ya. Ada kalanya kita akan bertemu lagi”  mereka pun menjadi orang sukses dengan jalannya masing-masing.

Terkadang persahabatan bukan hanya tentang bermain dengan tawa, tapi harus bisa saling membantu melewati segala rintangan dunia suka maupun duka tawa maupun tangis untuk mengejar impian dan sukses bersama.

 

 

                                               TAMAT-

 

Penulis  : Zauja Karima Firdausi

Sekolah : SMP IT BINA AMAL Semarang

CP : 085559640657

Alamat :  Semarang, kec.Gunung pati,kel. Soekerejo, Perumahan Taman Purisartika B213B




 ilustrasi oleh Gemini AI

 

 

           

 

  

             

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?