- Diposting oleh : Humas Bina Amal
- pada tanggal : Mei 23, 2026
Semarang (binaamal.sch.id) – SMPIT dan SMAIT Bina Amal Semarang kembali menghadirkan pembelajaran berbasis praktik melalui kegiatan life skill urban farming bagi siswa kelas 7, 8, dan 10. Kegiatan kali ini mengusung tema budidaya lele menggunakan galon bekas sebagai solusi pertanian dan perikanan sederhana di lingkungan perkotaan.
Kegiatan yang berlangsung penuh antusias ini menghadirkan narasumber sekaligus praktisi lapangan, Bapak Prasetyo Edi, orang tua dari Boy Rafli Ramadhan, siswa kelas 7 Putra SMPIT Bina Amal. Dalam sesi praktik tersebut, para siswa diajak memahami langsung teknik dasar budidaya lele dengan media galon yang hemat tempat, mudah diterapkan, dan ramah lingkungan.
Belajar Budidaya Lele Secara Praktik Langsung
Dengan pendekatan praktik langsung, siswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga belajar bagaimana memanfaatkan barang bekas menjadi media budidaya yang produktif. Galon-galon bekas disiapkan sebagai kolam mini untuk pembesaran lele, lengkap dengan penjelasan mengenai sistem air, pemberian pakan, hingga perawatan ikan agar tumbuh optimal.
Bapak Prasetyo Edi menjelaskan bahwa urban farming menjadi keterampilan penting bagi generasi muda di era modern, terutama dalam membangun kemandirian pangan dan jiwa kewirausahaan sejak dini.
“Anak-anak perlu dikenalkan dengan keterampilan nyata yang bisa diterapkan di rumah. Budidaya lele dengan galon ini sederhana, murah, tetapi memiliki nilai edukasi dan ekonomi yang baik.”
Para siswa terlihat antusias mengikuti setiap tahap praktik. Mereka aktif bertanya mengenai proses pemeliharaan lele, teknik menjaga kualitas air, hingga potensi hasil panen yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga maupun usaha kecil.
Membangun Karakter dan Kemandirian Siswa
Kegiatan life skill ini merupakan bagian dari komitmen SMPIT-SMAIT Bina Amal Semarang dalam menghadirkan pendidikan berbasis karakter, keterampilan hidup, dan kepedulian lingkungan. Melalui program urban farming, sekolah berharap siswa memiliki pengalaman nyata dalam mengembangkan kreativitas, kemandirian, dan semangat inovasi.
Selain melatih keterampilan praktis, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kolaboratif antara sekolah, siswa, dan orang tua dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang aktif dan inspiratif.



.jpeg)
